Kamis, 11 Juli 2013

GEREJA YANG SEHAT



(sebuah tafsir ekklesiologi atas Roma 12)

Para ahli tafsir kitab suci sepakat bahwa surat Roma bisa dibagi menjadi 2 bagian besar.
Pertama, Roma pasal 1-11, menggambarkan sebuah uraian yang teoritis dan teologis dari rasul Paulus tentang berbagai hal seperti : hidup karena iman, kedudukan taurat, sunat, pemilihan, pembenaran dan sebagainya.

Kedua, Roma pasal 12-16, mengungkapkan panduan Paulus secara praktis terhadap berbagai hal seperti : ketaatan kepada pemerintah, bagaimana seharusnya orang kristen hidup, soal makanan, soal sikap yang kuat terhadap yang lemah dan seterusnya.

Dalam kaitan dengan pertumbuhan gereja dan dasar gereja yang sehat, amat menarik untuk mengkaji fasal 12 ini. Tak kurang, seorang penulis bernama  Joe McKeever menyebut bahwa Roma pasal 12 ini bisa dipakai sebagai sebuah blue print dari sebuah gereja yang sehat.
Memang secara harafiah tidak pernah disebut kata gereja dalam keseluruhan ayat di Roma pasal 12. Namun tidak usah diragukan bahwa Paulus menulis surat kepada jemaat Roma yang adalah sebuah gereja local yang hidup dan berkembang saat itu.

Nah, saran-saran dan pandangan Paulus yang dituangkan dalam surat Roma ini ternyata juga tetap up to date untuk gereja di abad 21 ini.

Berikut ini kita akan membahas beberapa karakteristik sebuah gereja yang sehat berdasar pada pasal 12 surat Roma.

1. Hubungan vertikal : Setiap orang memiliki komitmen yang kuat kepada Allah (Roma 12:1-2)
Paulus menulis demikian, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”.

Ayat-ayat di atas sebenarnya sedang berbicara tentang hubungan vertical antara jemaat dengan Allah.Ini adalah dasar dari kekristenan, tanpa hal ini tidak akan ada gereja atau jemaat berdiri.
Kita harus menyadari bahwa gereja terbentuk karena ada Allah yang memanggil umatNya keluar dari kegelapan menuju terangNya yang ajaib.
a) Disini anugerah Allah menjadi sebuah starting point.
Apapun yang kita lakukan sebagai pribadi maupun sebagai jemaat adalah merupakan respon dari apa yang sudah dilakukanNya untuk kita. Inisiatif berawal dari Tuhan, baru kita kemudian meresponnya. 1 Yohones 4:19 memperjelas hal ini, “Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.“
Tidak ada seorang pun bersedia menerima anugerah Allah sampai ia menyadari betapa bobrok dan tanpa harapan hidupnya tanpa anugerahNya!

b) Kita mendedikasikan hidup kita kepada Allah melalui Tuhan Yesus
Ini berbicara tentang persembahan yang hidup. Yaitu sebuah hidup yang sudah dibaharui oleh Allah dalam Yesus Kristus yang kemudian dipersembahkan untuk kemuliaan Allah sepenuhnya lewat hidup yang kudus dan berbuah lebat.
Ini berarti juga sebuah cara hidup yang bersedia “mati” terhadap kesenangan dan kebiasaan  lama yang berdosa.

c) Kita menjadi focus pada kehendak Allah.
Pertanyaan jemaat yang memiliki komitmen kepada Allah adalah , “ Apa yang dikehendaki Allah untuk kami lakukan ?” atau “ apa yang menyenangkan hati Allah?”

2.Hubungan internal : setiap orang bertumbuh di dalam Kristus ( Roma 12:3-8)
Roma 12 ayat 3 berkata demikian, “Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.”

Ini sebenarnya berbicara tentang hubungan internal, hubungan setiap jemaat dengan dirinya sendiri. Ini adalah sebentuk kesadaran pribadi tentang kedudukan, peran dan kontribusi seseorang dalam sebuah komunitas gereja. Orang yang tidak tahu kedudukan, peran atau fungsi dirinya tidak akan memberikan kontribusi secara maksimal. Setiap jemat seharusnya menyadari bahwa ia memiliki peran yang unik dalam sebuah gereja yang menjadi komunitasnya.

Seorang anggota gereja yang sehat akan memiliki hubungan yang baik dengan :
a) Dirinya sendiri.
Orang yang memiliki hubungan yang baik dengan dirinya sendiri (bisa berdamai dengan diri sendiri) biasanya adalah sosok yang rendah hati, tapi tidak minder. Mereka memiliki pandangan yang seimbang, di satu sisi menyadari sebagai orang berdosa, tapi di sisi lain menyadari bahwa Allah telah memilihnya untuk menjadi mitraNya dalam menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia ini.

b) Keseluruhan Tubuh Kristus
Disini ia menyadari bahwa ia adalah bagian integral dari tubuh kristus atau jemaat dimana ia bergereja (Rm.12:4-5). Ibarat sebuah puzzle, ia adalah sebuah potongan puzzle yang tanpa dirinya puzzle itu tidak akan berbentuk sempurna. Oleh sebab itu ia tidak akan berusaha memisahkan diri dari komunitasnya tetapi malahan hadir untuk “menyempurnakan” komunitas itu. Dia sadar bahwa dia hadir di jemaat bukan untuk berkompetisi ( to compete) melainkan untuk melengkapi (to complete), dengan setiap talenta dan karunia rohani yang dimilikinya (Rm.12:6-8).
Ini berarti tidak ada tempat bagi seorang lone rangers dalam sebuah gereja yang sehat. Semua berfungsi sesuai karunianya tetapi dalam sebuah keterkaitan yang erat dan saling melengkapi. Paulus mengubaratkan jemaat seperti anggota tubuh yang saling terkait dan saling melengkapi!

Atau memakai kiasan lain, tidak ada solois dalam sebuah jemaat. Semuanya adalah para performers dimana Tuhan Yesus bertindak sebagai konduktornya (dirijen) yang mengatur agar suara yang dihasilkan menjadi indah dalam sebuah harmoni yang padu.

3. Hubungan horizontal : Semua hidup berlandaskan hukum kasih (Roma 12:9-21)
Hukum kasih menjadi rujukan yang utama dalam kehidupan sebuah gereja yang sehat. Kasih bukan hanya dikotbahkan tetapi lebih lagi ia dipraktekan secara nyata.
Sebuah jemaat yang sehat akan menjadi sebuah community of love, dimana sikap saling memberi, memaafkan dan mendukung terlihat secara kasat mata. Tidak ada tempat bagi sikap munafik dalam sebuah gereja yang sehat.
Dalam prakteknya kasih itu termanifestasikan dalam 4 jenis kasih berikut ini :

a) Sacrificing Love – kasih yang berkorban
Kasih itu itu terbukti melalui pengorbanan. Dalam hal ini jemaat bersedia untuk saling berkorban bagi kebaikan jemaat lainnya yang membutuhkan.

b). Sanctifying Love -  kasih yang menguduskan
Kasih yang menguduskan berarti dalam tindakan kasih itu tersirat suatu hasrat agar yang dikasihi menjadi lebih baik dan lebih kudus. Dalam prakteknya hal ini bisa berupa teguran penuh kasih atau nasehat penuh ketulusan terhadap rekan sekerja yang mungkin sedang hidup dalam dosa atau jatuh dalam dosa. Teguran itu bukan bersifat menghakimi tetapi memperbaiki!

c) Sustaining Love - cinta yang memelihara
Disini kasih dipraktekan sebagai sebuah tindakan untuk saling memelihara atau menumbuhkan satu dengan yang lainnya.Tidak ada kata-kata kasar atau sindiran-sindiran halus yang bisa mematikan inisiatif rekan jemaat yang lain. Tetapi yang ada adalah kata-kata dorongan dan pujian yang memelihara kebugaran dan kesehatan emosi rekan jemaat yang lain.

c).Securing Love -  Cinta yang memberi rasa aman – ayat 29
Dalam gereja yang sehat setiap jemaat merasa aman baik dalam kedudukan maupun posisinya karena tidak ada sikap saling jegal, kritik yang mematikan serta sikap saling bersaing yang tidak sehat. Kasih menjadi rem yang mencegah timbulnya ambisi-ambisi pribadi yang tidak sehat dan merusak.

Akhir kata, kita bisa belajar banyak dari Roma pasal 12 ini tentang bagaimana membangun dan mengembangkan gereja yang sehat. Intinya semuanya bermuara 3 hubungan yang harus kita bangun dengan baik, yaitu hubungan vertical dengan Tuhan, hubungan internal dengan diri sendiri dan hubungan horizontal dengan sesama anggota gereja lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar