(sebuah tafsir
ekklesiologi atas Roma 12)
Para ahli tafsir
kitab suci sepakat bahwa surat Roma bisa dibagi menjadi 2 bagian besar.
Pertama, Roma pasal
1-11, menggambarkan sebuah uraian yang teoritis dan teologis dari rasul Paulus
tentang berbagai hal seperti : hidup karena iman, kedudukan taurat, sunat,
pemilihan, pembenaran dan sebagainya.
Kedua, Roma pasal
12-16, mengungkapkan panduan Paulus secara praktis terhadap berbagai hal
seperti : ketaatan kepada pemerintah, bagaimana seharusnya orang kristen hidup,
soal makanan, soal sikap yang kuat terhadap yang lemah dan seterusnya.
Dalam kaitan dengan
pertumbuhan gereja dan dasar gereja yang sehat, amat menarik untuk mengkaji
fasal 12 ini. Tak kurang, seorang penulis bernama Joe McKeever menyebut bahwa Roma pasal 12 ini
bisa dipakai sebagai sebuah blue print
dari sebuah gereja yang sehat.
Memang secara
harafiah tidak pernah disebut kata gereja dalam keseluruhan ayat di Roma pasal
12. Namun tidak usah diragukan bahwa Paulus menulis surat kepada jemaat Roma
yang adalah sebuah gereja local yang hidup dan berkembang saat itu.
Nah, saran-saran
dan pandangan Paulus yang dituangkan dalam surat Roma ini ternyata juga tetap
up to date untuk gereja di abad 21 ini.
Berikut ini kita
akan membahas beberapa karakteristik sebuah gereja yang sehat berdasar pada
pasal 12 surat Roma.
1.
Hubungan vertikal : Setiap orang memiliki komitmen yang kuat kepada Allah (Roma
12:1-2)
Paulus menulis demikian, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan
kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang
kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Janganlah
kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan
budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik,
yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”.
Ayat-ayat di atas
sebenarnya sedang berbicara tentang hubungan vertical antara jemaat dengan
Allah.Ini adalah dasar dari kekristenan, tanpa hal ini tidak akan ada gereja
atau jemaat berdiri.
Kita harus
menyadari bahwa gereja terbentuk karena ada Allah yang memanggil umatNya keluar
dari kegelapan menuju terangNya yang ajaib.
a) Disini anugerah
Allah menjadi sebuah starting point.
Apapun yang kita
lakukan sebagai pribadi maupun sebagai jemaat adalah merupakan respon dari apa
yang sudah dilakukanNya untuk kita. Inisiatif berawal dari Tuhan, baru kita
kemudian meresponnya. 1 Yohones 4:19 memperjelas hal ini, “Kita mengasihi,
karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.“
Tidak ada seorang
pun bersedia menerima anugerah Allah sampai ia menyadari betapa bobrok dan
tanpa harapan hidupnya tanpa anugerahNya!
b) Kita
mendedikasikan hidup kita kepada Allah melalui Tuhan Yesus
Ini berbicara
tentang persembahan yang hidup. Yaitu sebuah hidup yang sudah dibaharui oleh
Allah dalam Yesus Kristus yang kemudian dipersembahkan untuk kemuliaan Allah
sepenuhnya lewat hidup yang kudus dan berbuah lebat.
Ini berarti juga
sebuah cara hidup yang bersedia “mati” terhadap kesenangan dan kebiasaan lama yang berdosa.
c) Kita menjadi
focus pada kehendak Allah.
Pertanyaan jemaat
yang memiliki komitmen kepada Allah adalah , “ Apa yang dikehendaki Allah untuk
kami lakukan ?” atau “ apa yang menyenangkan hati Allah?”
2.Hubungan
internal : setiap orang bertumbuh di dalam Kristus ( Roma 12:3-8)
Roma 12 ayat 3
berkata demikian, “Berdasarkan kasih
karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara
kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut
kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu
menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu
masing-masing.”
Ini sebenarnya
berbicara tentang hubungan internal, hubungan setiap jemaat dengan dirinya
sendiri. Ini adalah sebentuk kesadaran pribadi tentang kedudukan, peran dan
kontribusi seseorang dalam sebuah komunitas gereja. Orang yang tidak tahu
kedudukan, peran atau fungsi dirinya tidak akan memberikan kontribusi secara
maksimal. Setiap jemat seharusnya menyadari bahwa ia memiliki peran yang unik
dalam sebuah gereja yang menjadi komunitasnya.
Seorang anggota
gereja yang sehat akan memiliki hubungan yang baik dengan :
a) Dirinya sendiri.
Orang yang memiliki
hubungan yang baik dengan dirinya sendiri (bisa berdamai dengan diri sendiri)
biasanya adalah sosok yang rendah hati, tapi tidak minder. Mereka memiliki
pandangan yang seimbang, di satu sisi menyadari sebagai orang berdosa, tapi di
sisi lain menyadari bahwa Allah telah memilihnya untuk menjadi mitraNya dalam
menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia ini.
b) Keseluruhan
Tubuh Kristus
Disini ia menyadari
bahwa ia adalah bagian integral dari tubuh kristus atau jemaat dimana ia
bergereja (Rm.12:4-5). Ibarat sebuah puzzle, ia adalah sebuah potongan puzzle
yang tanpa dirinya puzzle itu tidak akan berbentuk sempurna. Oleh sebab itu ia
tidak akan berusaha memisahkan diri dari komunitasnya tetapi malahan hadir
untuk “menyempurnakan” komunitas itu. Dia sadar bahwa dia hadir di jemaat bukan
untuk berkompetisi ( to compete)
melainkan untuk melengkapi (to complete),
dengan setiap talenta dan karunia rohani yang dimilikinya (Rm.12:6-8).
Ini berarti tidak
ada tempat bagi seorang lone rangers
dalam sebuah gereja yang sehat. Semua berfungsi sesuai karunianya tetapi dalam
sebuah keterkaitan yang erat dan saling melengkapi. Paulus mengubaratkan jemaat
seperti anggota tubuh yang saling terkait dan saling melengkapi!
Atau memakai kiasan
lain, tidak ada solois dalam sebuah jemaat. Semuanya adalah para performers
dimana Tuhan Yesus bertindak sebagai konduktornya (dirijen) yang mengatur agar
suara yang dihasilkan menjadi indah dalam sebuah harmoni yang padu.
3.
Hubungan horizontal : Semua hidup berlandaskan hukum kasih (Roma 12:9-21)
Hukum kasih menjadi
rujukan yang utama dalam kehidupan sebuah gereja yang sehat. Kasih bukan hanya
dikotbahkan tetapi lebih lagi ia dipraktekan secara nyata.
Sebuah jemaat yang
sehat akan menjadi sebuah community of
love, dimana sikap saling memberi, memaafkan dan mendukung terlihat secara
kasat mata. Tidak ada tempat bagi sikap munafik dalam sebuah gereja yang sehat.
Dalam prakteknya
kasih itu termanifestasikan dalam 4 jenis kasih berikut ini :
a) Sacrificing
Love – kasih yang berkorban
Kasih itu itu terbukti melalui pengorbanan. Dalam hal ini
jemaat bersedia untuk saling berkorban bagi kebaikan jemaat lainnya yang membutuhkan.
b). Sanctifying Love -
kasih yang menguduskan
Kasih yang menguduskan berarti dalam tindakan kasih itu
tersirat suatu hasrat agar yang dikasihi menjadi lebih baik dan lebih kudus.
Dalam prakteknya hal ini bisa berupa teguran penuh kasih atau nasehat penuh
ketulusan terhadap rekan sekerja yang mungkin sedang hidup dalam dosa atau
jatuh dalam dosa. Teguran itu bukan bersifat menghakimi tetapi memperbaiki!
c) Sustaining Love
- cinta yang memelihara
Disini kasih
dipraktekan sebagai sebuah tindakan untuk saling memelihara atau menumbuhkan
satu dengan yang lainnya.Tidak ada kata-kata kasar atau sindiran-sindiran halus
yang bisa mematikan inisiatif rekan jemaat yang lain. Tetapi yang ada adalah
kata-kata dorongan dan pujian yang memelihara kebugaran dan kesehatan emosi
rekan jemaat yang lain.
c).Securing Love
- Cinta yang memberi rasa aman – ayat 29
Dalam gereja yang
sehat setiap jemaat merasa aman baik dalam kedudukan maupun posisinya karena
tidak ada sikap saling jegal, kritik yang mematikan serta sikap saling bersaing
yang tidak sehat. Kasih menjadi rem yang mencegah timbulnya ambisi-ambisi
pribadi yang tidak sehat dan merusak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar