Minggu, 28 Juli 2013

15 TANDA GEREJA YANG “BERMASALAH”



Mengevaluasi apa yang terjadi dalam kehidupan gereja kita, apakah bertumbuh dengan sehat atau tidak sangatlah penting kita lakukan. Dengan evaluasi kita tahu mana kekurangan dan mana yang perlu diperbaiki. Ibarat kebakaran sebelum api membesar dan meluluhlantakkan semua yang ada, evaluasi menolong kita memadamkan api sejak api itu masih kecil.
Seorang penulis dan pengamat kepemimpinan serta pertumbuhan gereja bernama Perry Noble membuat 15 daftar peringatan dari sebuah gereja yang bermasalah. Mari kita lihat satu persatu dan bandingkan dengan kondisi gereja kita masing-masing.

1. Ketika ada masalah muncul, lebih banyak alasan/excuse yang dikemukakan ketimbang bagaimana memecahkan masalah itu.

2. Ketika gereja menjadi puas dengan hanya menerima orang yang datang dan bukan benar-benar pergi keluar untuk menjangkau  mereka yang terhilang. Atau dengan kata lain, gereja kehilangan semangat  untuk melakukan  penginjilan!

3. Fokus dari gereja adalah untuk membangun sebuah gereja besar
 dan megah (lengkap dengan gambar pendeta, istrinya dan para majelis) dan tidak pada membangun Kerajaan Allah.

4. Kepemimpinan
yang mulai puas dengan kemampuan alaminya daripada mengandalkan kekuatan supranatural dari Roh Kudus.

5. Gereja mulai melihat keberhasilan
atau kegagalan dalam kacamata sebuah organisasi dunia dan bukan pada standar apakah gereja benar-benar memenuhi Amanat Agung Tuhan Yesus atau tidak ?

6. Para pemimpin dalam gereja berhenti bertumbuh dan tidak bersedia belajar lebih lagi.

7. Hilangnya rasa urgensi diantara jemaat ! (Neraka tidak lagi panas, dosa tidak lagi salah, dan salib tidak lagi penting!)

8. Alkitab tidak lagi menjadi acuan sentral dalam pembuatan keputusan.

9. Gereja menjadi lebih reaktif dan bukannya proaktif.

10. Orang-orang di gereja melupakan generasi berikutnya dan menolak untuk mendanai pelayanan hanya karena mereka tidak mengerti "orang-orang muda."

11. Tujuan dari gereja adalah untuk sekedar menjaga segala sesuatu yang telah ada. Gereja menjadi berada di zona nyaman dan tidak lagi mau “diusik” serta “mengusik” terutama kepada donatur besar dalam gereja.

12. Gereja tidak lagi bersedia untuk mengambil langkah iman karena "ada terlalu banyak yang harus dikorbankan."

13. Gereja tidak lagi perduli pada kebutuhan yang jelas dan mendesak yang ada di masyarakat.

14. Jemaat menjadi bergantung pada satu orang untuk melayani semua orang dan bukannya memberdayakan semua orang sehingga gereja bisa bertumbuh sebagai satu kesatuan tubuh yang harmonis.

15. Ketika para pemimpin / staf menolak untuk bekerja ekstra dalam memimpin dan melayani karena hal itu menimbulkan rasa tidak nyaman/kesulitan.

Rabu, 17 Juli 2013

4 CIRI JEMAAT YANG BELUM MATANG



Menjadi orang Kristen bertahun-tahun, tidak menjamin seseorang menjadi dewasa rohani. Bahkan ada orang kristen yang umurnya sudah tua, tapi rohaninya masih kanak-kanak. Padahal menjadi orang Kristen yang tidak matang ada bahayanya :
o          Tidak bisa mengelola bekat Tuhan dengan bertanggung jawab
o          Mudah terombang-ambing berbagai angin pengajaran

Nah, kali ini kita akan mempelajari tanda-tanda orang Kristen yang tidak matang menurut kitab Ibrani 5:11-14 , sehinggga kita bisa menghindarkannya.

TANDA-TANDA KETIDAKMATANGAN ROHANI
1.Lamban dalam mendengar – ayat 11
Ketika seorang baru bertobat biasanya mereka sangat bersemangat. Mereka :
(a)        Mereka sangat bergembira dalam mempelajari FT
Petobat baru biasanya sangat senang kalau diajak kebaktian, Pendalaman alkitab, persekutuan doa dan senang membaca alkitab secara pribadi. Ini dikarenakan mereka sedang menalami “cinta mula-mula.”

(b)        Mereka selalu siap mendengar pengajaran
Petobat baru ketika diajar juga sangat perhatian, mereka menyimak bahkan mencatat apa yang mereka dengar. Ini karena rasa ingin tahu mereka masih sangat tingi.

Tapi dengan berlalunya waktu mereka bisa menjadi apatis dan ogah-ogahan dalam mendengar FT, inilah yang disebut sebagai lamban dalam mendengar. Lamban dalam mendengar sebenarnya lebih tepat diterjemahkan : “bosan dalam mendengar!” Orang bisa menjadi demikian karena 2 hal:
o          Mengalami kebosanan : Jenuh dengan kehidupan rohani yang dijalani
o          Mengalami kemandegan : Tidak bertumbuh secara rohani. Masih menjadi bayi rohani terus.

Solusinya adalah : Kebosanan rohani harus dilawan! Caranya : Carilah kegiatan gerejawi yang paling senang anda lakukan dan aktiflah disana. Dengan aktif kita akan bisa mengurangi kebosanan kita!

2.Ketidakmampuan untuk mengajar – ayat 12a
Yang dimaksud disini bukan mengajar seperti guru kepada muridnya, tapi menjelaskan apa yang menjadi keyakinan imannya. Kepada siapa saja seharusnya kita mampu menjelaskan keyakinan iman kita ?
(a)        Kepada anak kita
Kita harus mampu mengajar anak kita tentang iman yang kita yakini. Ingat, anak itu ibarat kertas putih. Apa yang kita tulis di atas kertas itu akan menentukan masa depan si anak kelak.

(b)        Kepada orang terdekat
Kita juga harus mampu mengajarkan atau menerangkan iman yang kita yakini kepada orang-orang dekat kita, seperti kepada suami, istri, mertua, saudara atau malahan teman-teman dekat kita. 

(c)        Kepada setiap orang yang bertanya kepada kita
Ada kalanya orang bertanya kepada kita tentang apa yang kita yakini. Nah, dalam situasi begini kita harus bisa menjawabnya dengan baik.

Solusi  dalam mengatasi hal ini adalah : kita harus terus belajar! Dengan belajar kita menjadi mampu!

3. Hanya menyukai makanan lunak – ayat 12-13
Ketika masih bayi rohani adalah wajar kita senang mendengar “Firman yang lunak”.
Tapi setelah bertahun-tahun jadi orang Kristen kita juga harus membiasakan diri dengan Firman yang keras. Kita harus mendengar Firman yang seimbang :
(a)        Seimbang antara tuntutan taurat dan kasih karunia Allah
Kita harus memiliki keseimbangan antara mempelajar Taurat (hukum-hukum Allah)  dan Kasih karunia Allah dalam hidup ini. Kalau kita terlalu menekankan Taurat, maka kita akan jadi seperti orang Farisi yang suka menghakimi kekurangan dan kesalahan orang lain.
Sebaliknya, kalau kita terlalu menekankan kasih karunia Allah, kita akan cenderung untuk hidup semauanya.

(b)        Seimbang antara iman dan perbuatan
Kita harus memiliki keseimbangan antara iman dan perbuatan. Yakobus mengatakan ,”Iman tanpa perbuatan adalah mati.”
Kita harus memahami tanggung jawab kita dan kedaulatan Allah. Kita harus dengan setia memenuhi tanggung jawab kita sebelum kita mengharapkan Tuhan untuk memenuhi bagian-Nya. Kita tidak boleh mengharapkan Tuhan melakukan semuanya, sementara kita tidak melakukan apapun. Iman tanpa perbuatan adalah mati.

(c)        Seimbang antara janji dan perintah
Kita harus memiliki keseimbangan antara ”mengklaim” janji Allah dan mematuhi perintah Allah.
Kita memang bisa mengklaim semua janji yang Tuhan telah berikan kepada kita. Tuhan selalu setia untuk memenuhi janji-Nya. Tapi kita tidak bisa mengabaikan perintah-perintah Allah dan fokus hanya pada janji-janjiNya saja. Banyak kali kita gagal untuk menerima pemenuhan janji-janji Allah karena kita gagal untuk mematuhi perintahNya!
Jadi sebelum menagih janji Tuhan, lakukan dulu perintahNya! Itu baru seimbang namanya. Sebuah Contoh bisa disebutkan disini  :
Tentang perpuluhan. Kita tidak bisa menagih janji Tuhan dalam Maleakhi 3:10-11, kalau kita belum melakukan perintah Tuhan untuk memberikan perpuluhan dengan setia!
Solusinya : pelajari dan dengarkan semua FT, baik yang lunak maupun yang keras, karena semua itu berguna untuk pertumbuhan rohani kita!

4. Ketidakmampuan untuk membedakan – ayat 14
Ketidakmampuan membedakan itu terutama dalam 2 hal :
(a)        Antara baik dan jahat
Ini bicara tentang perilaku. Ada orang Kristen yang tidak bisa membedakan antara :
o          Memberi hadiah (baik) dan menyuap (jahat)
o          Memuji (baik) dan menjilat (jahat)
o          Menasehati (baik) dan menggurui (jahat)

(b)        Antara kebenaran dan kesesatan
Ini bicara tentang pengajaran.Contohnya :  Banyak orang Kristen tidak bisa membedakan antara ajaran saksi Yehova dan kekristenan yang sejati dsb.
Solusi mengatasi masalah ini adalah  : Mintalah kebijaksanaan dari Tuhan untuk bisa membedakan “roh”, sehingga kita selalu bisa membedakan antara yang baik dengan yang jahat dan yang benar dengan yang salah!

Sebagai catatan akhir, kami ingin mengingatkan satu hal penting : Coba anda instropeksi diri, kalau ke 4 tanda di atas ada dalam diri anda itu tandanya anda belum dewasa. Kalau begitu berjuanglah dan terus berusaha agar anda senantiasa bertumbuh dalam iman dan kebajikan!

Selasa, 16 Juli 2013

5 TANDA JEMAAT YANG MENGASIHI TUHAN



Ada 2 hukum utama dalam kekristenan, yaitu , mengasihi Tuhan dengan segenap hati, kekuatan dan akal budi serta mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri.
Pertanyaannya : “apa tandanya bahwa kita mengasihi Allah dengan sepenuh hati

5 TANDA JEMAAT YANG MENGASIHI TUHAN
Di bawah ini ada 5 “P” sebagai tanda kita mengasihi Tuhan :
1. Prayer = Doa
Kita harus punya waktu untuk berdoa kepada Tuhan. Jangan saat ada masalah baru kita mencari Tuhan. Doa merupakan percakapan intim antara 2 pribadi yang saling mengasihi.
Berdoa adalah kegiatan dari hati ke hati.“Masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu…” Tuhan mengajar kita bahwa berdoa ibarat memasuki ruang rahasia, seperti mengadakan rapat tertutup.
Doa adalah hubungan sangat rahasia antara jiwa kita dengan Tuhan, seperti bicara dari hati ke hati. “Menutup pintu” berarti berusaha melupakan dunia yang cemar dan berbahaya, dengan segala peristiwa di dalamnya yang menyibukkan dan menggelikan.

2. Presence = Kehadiran (Ibrani 10:25)
Ayat di atas berbicara tentang kehadiran kita dalam setiap ibadah. Kata pertemuan-pertemuan adalah selalu hadir dalam setiap program-program gereja lokal. Tapi motivasi ke gereja juga harus tepat, sebab ada 5 tipe pengunjung gereja.
Seorang pendeta bernama Ron Edmonson mengamati paling tidak ada 5 jenis manusia yang setiap ming beribadah di gereja :
(a) Testers (Orang yang mencoba/tes)
Tipe tester ini bukanlah jemaat tetap. Ia hanya datang ke sebuah gereja karena beberapa alasan :
(1) Karena kecewa dengan gereja lama
Banyak alasan untuk orang kecewa dengan gereja lamanya. Alasan yang sering diungkapkan adalah :
o   Mereka tidak bertumbuh secara rohani di gereja lama
o   Mereka kurang menyukai kotbah-kotbah di gereja lama
o   Mereka tidak merasa ada ikatan persekutuan yang hanta di gereja lama
o   Mereka kurang merasakan kuasa Tuhan di gereja lama dsb.

(2)  Ingin melihat-lihat suasana gereja yang dikunjungi
o   Jemaat jenis ini seperti orang yang mau beli baju. Pertama-tama, ia lihat-lihat dulu lalu coba sana, coba sini, kalau sudah ada yang cocok baru beli.

(3)  Mengharapkan sambutan yang hangat
o   Karena ia baru melihat-lihat, maka tipe tester sebenarnya mengharapkan ada sambutan hangat kepadanya.
o   Kalau ia disambut hangat kemungkinannya besar ia mau berjemaat di gereja yang dia kunjungi itu.

(b) Pleasers - penyenang
Tipe ini biasanya datang ke gereja bukan karena keinginannya sendiri, tapi ia datang untuk menyenangkan hati teman atau saudara yang mengundangnya ke gereja. Jadi, motivasinya ke gereja hanya sebatas hadir karena tidak enak hati terhadap undangan yang diterima.

(c) Jumpers - Kutu loncat
Tipe ini adalah tipe pengunjung gereja yang suka berpindah-pindah.  Saat ia tidak merasa nyaman pada suatu gereja, ia akan pindah ke gereja lain. Begitu seterusnya.
Kita harus hati-hati menghadapi tipe orang seperti ini. Jangan langsung memberi jabatan strategis kepada tipe ini. Tipe kutu loncat di gereja ini  biasanya juga bersikap sama dalam pekerjaannya.

(d) Seekers - Pencari
Tipe ini adalah orang yang sedang mencari kebenaran yang tertinggi dalam hidupnya.  Mereka sudah muak hidup dengan cara duniawi dan mereka sedang mencari sesuatu yang baru yang dapat memenuhi kebutuhan spiritualnya.

(e) Investors
Tipe ini adalah orang yang benar-benar lahir baru. Mereka datang ke gereja karena ingin ikut membangun kerajaan Allah. Mereka seperti investor yang menanamkan uang, keahlian, tenaga dan pemikirannya di gereja agar kelak berbuah di Kerajaan Allah yang kekal.
Tipe ini  selayaknya diberi kesempatan untuk berkembang dan dipromosikan, karena mereka akan membuat dampak yang besar bagi pertumbuhan gereja.

3. Possesion = Harta kita (Amsal 3:9-10)
Orang yang mengasihi Tuhan pasti suka memberi untuk pekerjaan Tuhan. Ada 3 hal penting dalam memberi yang harus kita perhatikan :
(a) Memberi karena kasih
Kasih adalah hal yang paling fundamen dalam memberi, sebab arti lain dari memberi adalah mengorbankan.  Allah sendiri dikuasai oleh kasih yang besar sehingga ia menyerahkan Anak-Nya yang tunggal (Yoh 3:16). Jadi, jika Anda memiliki kasih, maka Anda bisa memberi.

(b) Memberi yang terbaik
Memberi yang terbaik artinya ketika kita memberi kita merasakan sakitnya ketika memberi.
Rick Warren, seorang Gembala Jemaat dan penulis yang paling laris dari buku “Purpose Driven Live” mempersembahkan pendapatannya 90%, dan meninggalkan baginya 10% saja, sehingga ia disebut sebagai orang yang dermawan (philanthropist). Tetapi keputusan ini dilakukannya setelah ia dan istrinya berdoa kepada Tuhan.

(c) Memberi sebagai gaya hidup
Memberi haruslah menjadi sebuah gaya hidup bagi orang percaya. Jadi memberi bukan lagi merupakan sebuah beban, namun menjadi sebuah kesukaan.

4. Potential =  Talenta (Matius 25:14-30)
Talenta yang Tuhan berikan harus dikembangkan sehingga semakin ditambahkan oleh Tuhan, dan jangan sekali-kali kita menggerutu.
Beberapa prinsip dalam pengembangan talenta antara lain :
(a) Setiap orang di karuniai talenta yang unik dan istimewa. 
Setiap pribadi adalah unik. Unik artinya istimewa dengan segala keberbedaannya.  Keberbedaan tersebut juga terletak pada karunia dan talenta yang Tuhan titipkan pada kita.  Setiap orang telah di anugerahi talenta masing-masing, namun barangkali kita tidak menyadarinya.
Kita perlu senantiasa berdoa, meneliti diri dan meminta pertolongan Tuhan agar kita bisa mengerti, apa sebetulnya talenta yang Tuhan berikan ke kita. Sehingga kita dapat mengembangkan talenta yang telah Tuhan anugerahkan, sehingga kita dapat menjadi berkat bagi banyak orang.

(b) Talenta setiap orang itu berbeda satu dengan lainnya
Talenta setiap orang itu berbeda, berarti kita tidak perlu menjadi sombong diri, karena sebetulnya talenta itu hanya titipan Tuhan.  Talenta yang banyak berarti tanggung jawab banyak dan besar, tetapi yang diberi sedikit, juga akan dituntut sedikit.
Walaupun talenta kita sedikit, Tuhan pernah bersabda, kalau kita setia dalam perkara yang kecil, Tuhan akan memberkati kita dan memberikan kita tanggung jawab yang lebih besar.

(c) Talenta kita harus kita pertanggung jawabkan pada Tuhan
Jadi, setiap dari kita yang memiliki talenta, kita tidak bisa menjadi sombong.  Apapun yang Tuhan percayakan kepada kita, harus dipertanggungjawabkan.
Kita bisa saja bilang,"Ini kan uang, uang saya ; ini kan pangkat, pangkat saya ; ini kan yang semua saya raih adalah milik saya."
Tetapi, tahukah kita bahwa suatu saat nanti, kita harus pertanggungjawabkan segalanya kepada Tuhan.

(d) Tidak mengembangkan sebuah talenta adalah sebuah kejahatan
Tidak mengembangkan sebuah talenta, bukanlah sebuah kelalaian, bahkan bukan hanya sebuah kebodohan, tetapi merupakan sebuah kejahatan.
Maka dikatakan pada ayat 26, “ Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas”. Bahkan dikatakan pada ayat 30, “ Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."

5. Purity = Kemurnian
Segala sesuatu yang kita lakukan harus disertai dengan kemurnian artinya melakukannya seperti kepada Tuhan.  Jadi orang yang mengasihi Tuhan akan melakukan segala sesuatu dengan satu tujuan untuk memuliakan nama Tuhan. Bukan untuk cari jabatan, cari pengaruh atau untuk cari pujian.