Minggu, 17 Mei 2015

KEGERAKAN SETELAH PENTAKOSTA



Pentakosta, juga dieja Pantekosta, (dari bahasa Yunani: Pentēkostē hēmera, "hari kelima-puluh") adalah hari raya Kristiani yang memperingati peristiwa dicurahkannya Roh Kudus kepada para rasul di Yerusalem, lima puluh hari setelah kebangkitan Yesus Kristus.
Pada hari Pentakosta, Roh Kudus dicurahkan sesuai dengan yang dijanjikan Yesus sesudah kenaikannya ke surga.

MAKNA DIBALIK PERISTIWA PENTAKOSTA
1.Pentakosta adalah peristiwa konversi
Yang dimaksud konversi adalah pertobatan atau perubahan total. Setelah Roh kudus dicurahkan ada 2 hal besar yang terjadi :
(a) Pertobatan besar-besaran
Terjadi kegerakan rohani luar biasa setelah pencurahan Roh Kudus. Petrus, sekali  berkotbah , 3.000 orang bertobat.
Seorang penafsir memperkirakan ada sekitar 8.000 orang dari berbagai bangsa yang bertobat di Yerusalem setelah peristiwa Pentakosta.

(b) Gereja Kristen lahir
Pentakosta juga menjadi  tonggak kelahiran gereja Kristen. Sejak hari Petakosta, kekristenan menjadi terbuka untuk semua orang dari berbagai bangsa, bukan hanya untuk orang Yahudi.

2.Pentakosta adalah peristiwa komunikasi
Peristiwa Pentakosta adalah sebuah peristiwa komunikasi. Ketika Roh kudus turun pada hari Pentakosta, maka orang-orang bisa mendengar para murid Yesus berbicara dalam bahasa mereka masing-masing (ini disebut Xenolalia – berbiara dalam lidah asing).
Jadi karunia Roh Kudus dalam berbahasa ada 2 : glosolalia (bahasa roh) dan Xenolalia (berbiara dalam lidah asing).
Ini berarti tembok pemisah  berupa bahasa yang selama berdiri diantara para murid dengan orang banyak itu runtuh.
Runtuhnya tembok itu memulai awal komunikasi yang baik.
Dalam hidup ini hendaknya kita selalu berusaha meruntuhkan tembok dan membangun jembatan!
Yesus dalam Yohanes 4:5-42 diceritakan meruntuhkan “tembok” antara dirinya dengan Perempuan samaria yag berdosa .
Yesus Meruntuhkan Tembok yang Bernama “Walaupun”
(a)    Walaupun wanita itu hanya seorang diri saja, tetap dilayani oleh-Nya, dan ternyata menghasilkan buah pertobatan banyak orang Samaria yang mendengar kesaksiannya.

(b)   Walaupun mengandung risiko, sebab berdialog dengan seorang wanita tunasusila dan berada di daerah musuh sehingga sewaktu-waktu bisa digerebek, tapi tetap dihadapi-Nya dengan tenang sebab semua itu dilakukan dengan hati yang bersih.

(c)    Walaupun menyentuh “kelemahan” sang wanita yang bejat moralnya, tetapi wanita itu tidak marah sebab Yesus mengasihinya.

(d)   Walaupun dosanya sangat besar dan sudah menjadi sampah masyarakat, namun tetap ditangani secara prima dan diperhadapkan pada pintu pertobatan sehingga hari itu juga wanita tersebut memiliki keberanian menjadi Pemberita Injil Tuhan.

(e)    Walaupun pada umumnya orang-orang Yahudi menghindar dari orang-orang Samaria, tapi Tuhan Yesus bersedia tinggal dua hari di sana untuk memberi bimbingan lanjutan.

3. Pentakosta adalah peristiwa awamisasi (Yoel 2:28-29)
Yang dimaksd awamisasi adalah kebangkitan kaum awam di gereja. Pentakosta merupakan penggenapan nubuatan dalam Yoel 2:28-29, yang berarti juga proses awamisasi. Dengan  nubuatan itu maka :
(a) Roh Kudus bukan lagi milik orang tertentu saja
Dalam tradisi Perjanian lama hanya ada 3 kelompok manusia yang bisa diurapi Roh Kudus untuk mengeban tugas tertentu, yaitu : Imam, Raja dan Nabi.
Dengan tergenapinya nubutan dalam Yoel di atas maka ini tidak berlaku lagi.

(b) Terjadi kegerakan kaum awam
Karena dalam peristiwa Pentakosta Roh Kudus dicurahkan kepada semua orang , maka kemudian gerjadilah kegerakan kaum awam di gereja.
Mereka menjadi memiliki keberanian dan kuasa untuk memberitakan injil kepada semua orang.
Dan sejarah mencatat bahwa yang paling banyak menobatkan iwa adalah kaum awam ini lewat teknik penginjilan yang disebut “Friendship evangelism” (penginjilan lewat pertemanan).

4. Pentakosta adalah peristiwa evangelisasi (penginjilan)
Sebelum Pentakosta para murid hanyalah sekumpulan kaum pecundang yang terasing. Mereka berkumpul dengan ngumpet-ngumpet takut diburu tentara Roma dan para pemimpin agama Yahudi.
Tapi setelah pentakosta mereka menjadi sekumpulan pemenang yang dengan gagah berani keluar kandang memberitakan injil keselamatan!
Sejarah mencatat, ke 12 murid (plus Paulus) Yesus adalah para rasul yang berani mengabarkan injil keseluruh dunia. Contohnya :
(a)     Petrus
Mengabarkan injil kepada komunitas Yahudi baik yang di Yerusalem, samaria maupun Roma.

(b)   Andreas
Andreas dengan tekun mengabarkan Injil sampai ke Rusia dan Yunani. Sampai akhirnya ia mati dengan cara disalib berbentuk  X di kota bernama Patras, yang terletak di sebelah selatan Yunani.

(c)    Thomas
Menurut tradisi gereja Thomas diyakini mengabarkan injil sampai ke India, sebab di India ada gereja namanya gereja Mar Thoma (diyakini didirikan oleh Thomas).

(d)   Paulus
Melakukan pekabaran Injil keseluruh dunia termasuk ke asia kecil dan Eropa (Kis. pasal 10-28)

(e) Apolos
Memberitakan injil sampai ke Mesir  (Kis. ps. 18) 

(f) Filipus
Menyebarkan injil sampai ke Etiopia (Kis. ps. 8)

Tanpa kuasa Roh kudus mustahil kekristenan bisa berkembang menjadi agama terbesar di dunia yang diimani sekitar 2,1 milyar jiwa lebih.
Menurut penelitian yang diungkapkan dalam Adherent.com jumlah 6 besar keyakinan dunia adalah :
(a) Kristen  – 2,1 milyar
(b) Islam – 1,5 milyar
(c)  agnostic/ atheis – 1,1 milyar
(d) Hindu – 900 juta
(e) Agama tradisional China – 394 juta
(f) Budha – 376 juta

5. Pentakosta adalah peristiwa transformasi
Roh Kudus mendorong dan memberi kita kemampuan untuk berubah dan mengubah.
(a) Mengubah diri sendiri
Tanpa pertolongan Roh Kudus kita tidak akan mampu mengubah diri kita sendiri. Roh Kuduslah yang berperan mengubah hidup lama kita yang berdosa menjadi hidup baru yang kudus di dalam Kristus.

(b) Mengubah dunia
Ada banyak tokoh kristen yang megubah dunia, dinataranya adalah:
o   Albert Schweitzer
Albert adalah seorang teolog sekaligus dokter yang menerima hadiah nobel karena pengabdiannya kepada kemanusiaan.
Kehadiran Albert di Afrika membuat orang-orang bersyukur sebab selain penyakit jasmani mereka terobati, iman mereka kepada Yesus bertumbuh oleh pelayanan Albert.
Di Afrika, Albert dan isterinya tidak hanya berkutat selama 1 – 2 tahun saja, tetapi selama berpuluh-puluh tahun. Hasilnya, setelah 41 tahun mengabdi di Afrika dan meninggalkan keramaian dan kesenangan hidup, dunia mengetahui karya sucinya.

o   Marthin Luther King Jr.
Pendeta Martin Luther King, Jr., Ph.D. (lahir di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, 15 Januari 1929 – meninggal di Memphis, Tennessee, Amerika Serikat, 4 April 1968 pada umur 39 tahun) adalah penerima Nobel, pendeta Baptis dan aktivis HAM warga Afrika-Amerika (negro Amerika).
Dia adalah salah seorang pemimpin terpenting dalam sejarah AS dan dalam sejarah non-kekerasan pada zaman modern, dan dianggap sebagai pahlawan, pencipta perdamaian dan martir oleh banyak orang di seluruh dunia.
Martin Luther King, Jr mendobrak perlakuan tidak adil bagi warga negro di Amerika sehingga akhirnya mereka bisa memperoleh hak yang sama dengan orang kulit putih.
Satu setengah dekade setelah pembunuhan terhadapnya pada tahun 1968, Amerika Serikat menetapkan sebuah hari libur untuk memperingatinya, Hari Martin Luther King.

KESIMPULAN
Dibalik peristiwa Pentakosta ternyata banyak hal besar terjadi. Intinya, kalau kita mau melakukan perkara-perkara yang besar dalam hidup ini, kita perlu terus dipenuhi dengan Roh Kudus!

Minggu, 06 Oktober 2013

3 LEVEL KEANGGOTAAN JEMAAT



Setiap orang kristen adalah bagian dari tubuh Kristus yang universal. Namun demikian sebagai anggota tubuh Kristus masing-masing kita menjadi bagian dari sebuah gereja local.
Di gereja local inilah biasanya semua potensi, talenta, kapabilitas, ide dan sumbangsih kita pertama-tama kita dedikasikan.
Kalau kita amati lebih teliti, ternyata ada 3 level kiprah orang percaya di dalam tubuh Kristus. Mari kita lihat satu demi satu.

1. Level membership
Ini menunjukkan sebuah situasi dimana seseorang menjadi anggota aktif sebuah gereja local. Ia menjalankan kewajibannya sebagai anggota jemaat dengan baik, seperti : beribadah secara rutin, memberi persembahan dan perpuluhan dengan setia, namanya tercatat di buku keanggotaan gereja dan mungkin ikut sedikit kegiatan pelayanan.
Di sisi lain, ia juga sudah berhak menikmati haknya sebagai anggota jemaat seperti : memperoleh pelayanan dari para hamba Tuhan, menerima baptisan kudus, menerima perjamuan kudus dan kalau nanti meninggal menerima pelayanan pemakaman dari gereja.
Namun demikian jemaat level ini hanya aktif di permukaan saja. Ia menjadi anggota jemaat yang setia hanya sebatas untuk memenuhi kewajiban agamanya saja dan sekaligus dengan itu merasa berhak menerima pelayanan agamawi dari gereja.

2. Level Fellowship
Level ini sudah lebih maju dan berakar dari level pertama. Jemaat level fellowship bukan sekedar jemaat yang hadir untuk memenuhi kewajiban keagamaannya, tetapi sekaligus berusaha dengan sungguh untuk membangun sebuah hubungan yang cukup mendalam dengan anggota tubuh Kristus yang lain.
Jemaat level ini sudah pasti ikut terjun dalam pelayanan bahkan mungkin menjadi pengerja yang sangat aktif. Ia sadar bahwa semua potensi dan talenta yang dimilikinya harus dipakai  secara bersama-sama dengan anggota jemaat yang lain untuk membangun tubuh Kristus dalam gereja local.
Level ini sudah meninggalkan sikap individualitasnya dan menikmati secara utuh kehidupan berkomunitas. Hubunganya dengan anggota jemaat lain sudah cukup mendalam dan bukan sekedar hanya kenal nama saja.
Mereka menyadari bahwa hidup sebagai anggota tubuh kristus berarti hidup dalam sebuah komunitas yang saling perduli dan berbagi.

3. Level partnership
Tipe ini adalah tipe yang paling tinggi sebab ia sudah memahami bahwa panggilan hidupnya bukan sekedar untuk menjadi anggota gereja atau sekedar bersekutu saja melainkan untuk menjadi partner atau kawan sekerja Allah di dunia ini.
Oleh sebab itu peran level ini sudah menjangkau ruang lingkup yang sangat luas. Ia tidak hanya menjadi pengkhotbah di gerejanya sendiri, tetapi ia juga sudah menjadi seorang pengkhotbah Am (oikumenis). Ia bukan saja menjadi pengajar yang berdedikasi bagi jemaatnya sendiri, tetapi ia juga sudah menjadi pengajar yang memberkati berbagai macam gereja di luar gerejanya  sendiri atau denominasi yang diikutinya.
Ia juga gemar sekali membagikan ilmu atau pengetahuan alkitab yang dimilikinya kepada khalayak yang lebih luas, misalnya dengan menulis buku, membuat blog atau traktat untuk disebarluaskan secara massiv.
Dan sebagian bahkan ada yang terpanggil untuk menjadi perpanjangan tangan Allah untuk menjangkau suku-suku yang terasing dengan menjadi misionaris.

Nah, sebuah gereja yang sehat adalah gereja yang mampu mendrive jemaatnya untuk berpindah dari level satu menuju level dua, syukur-syukur bisa sampai level tiga !

Minggu, 28 Juli 2013

15 TANDA GEREJA YANG “BERMASALAH”



Mengevaluasi apa yang terjadi dalam kehidupan gereja kita, apakah bertumbuh dengan sehat atau tidak sangatlah penting kita lakukan. Dengan evaluasi kita tahu mana kekurangan dan mana yang perlu diperbaiki. Ibarat kebakaran sebelum api membesar dan meluluhlantakkan semua yang ada, evaluasi menolong kita memadamkan api sejak api itu masih kecil.
Seorang penulis dan pengamat kepemimpinan serta pertumbuhan gereja bernama Perry Noble membuat 15 daftar peringatan dari sebuah gereja yang bermasalah. Mari kita lihat satu persatu dan bandingkan dengan kondisi gereja kita masing-masing.

1. Ketika ada masalah muncul, lebih banyak alasan/excuse yang dikemukakan ketimbang bagaimana memecahkan masalah itu.

2. Ketika gereja menjadi puas dengan hanya menerima orang yang datang dan bukan benar-benar pergi keluar untuk menjangkau  mereka yang terhilang. Atau dengan kata lain, gereja kehilangan semangat  untuk melakukan  penginjilan!

3. Fokus dari gereja adalah untuk membangun sebuah gereja besar
 dan megah (lengkap dengan gambar pendeta, istrinya dan para majelis) dan tidak pada membangun Kerajaan Allah.

4. Kepemimpinan
yang mulai puas dengan kemampuan alaminya daripada mengandalkan kekuatan supranatural dari Roh Kudus.

5. Gereja mulai melihat keberhasilan
atau kegagalan dalam kacamata sebuah organisasi dunia dan bukan pada standar apakah gereja benar-benar memenuhi Amanat Agung Tuhan Yesus atau tidak ?

6. Para pemimpin dalam gereja berhenti bertumbuh dan tidak bersedia belajar lebih lagi.

7. Hilangnya rasa urgensi diantara jemaat ! (Neraka tidak lagi panas, dosa tidak lagi salah, dan salib tidak lagi penting!)

8. Alkitab tidak lagi menjadi acuan sentral dalam pembuatan keputusan.

9. Gereja menjadi lebih reaktif dan bukannya proaktif.

10. Orang-orang di gereja melupakan generasi berikutnya dan menolak untuk mendanai pelayanan hanya karena mereka tidak mengerti "orang-orang muda."

11. Tujuan dari gereja adalah untuk sekedar menjaga segala sesuatu yang telah ada. Gereja menjadi berada di zona nyaman dan tidak lagi mau “diusik” serta “mengusik” terutama kepada donatur besar dalam gereja.

12. Gereja tidak lagi bersedia untuk mengambil langkah iman karena "ada terlalu banyak yang harus dikorbankan."

13. Gereja tidak lagi perduli pada kebutuhan yang jelas dan mendesak yang ada di masyarakat.

14. Jemaat menjadi bergantung pada satu orang untuk melayani semua orang dan bukannya memberdayakan semua orang sehingga gereja bisa bertumbuh sebagai satu kesatuan tubuh yang harmonis.

15. Ketika para pemimpin / staf menolak untuk bekerja ekstra dalam memimpin dan melayani karena hal itu menimbulkan rasa tidak nyaman/kesulitan.