Sabtu, 13 Juli 2013

GENERASI YANG TERHILANG



Ada fakta yang mengejutkan tentang orang Israel yang keluar dari Mesir. Mari kita lihat fakta itu:
(a)        Ada sekitar 2 juta orang yang keluar dari Mesir. Alkitab menyebut 600 ribu orang laki-laki. Para ahli memperkirakan ditambah anak-anak dan para wanita jumlahnya 2 jutaan. (Kel.12:37 ; Bil.11:21).

(b)        Mereka keluar dengan membawa ternak serta harta benda lainnya – Kel.12:30-36

(c)        Mereka ada di padang gurun selama 40 tahun, padahal seharusnya perjalanan dari Mesir ke Kanaan bisa ditempuh dalam waktu normal kurang dari setahun.

(d)       Dan ini yang paling mengejutkan, dari sekitar 2 juta orang itu, yang sampai ke Kanaan cuma 2 orang, yaitu Yosua dan Kaleb.

Nah, Orang Israel yang mati di padang gurun ini disebut sebagai generasi yang hilang (the lost Generation). Pertanyaannya, mengapa mereka bisa sampai terhilang ?
Kita sebagai gereja masa kini harus belajar dari kasus ini agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

CIRI-CIRI GENERASI YANG HILANG
1.         Suka menoleh kebelakang – Bil.14:2-3
Salah satu hal yang paling senang diucapkan orang Israel dalam keluh kesahnya di padang gurun adalah : mereka ingin  kembali ke Mesir (negeri perbudakan). Mentalitas suka menoleh kebelakang ini adalah mentalitas pecundang dan pendosa :
(1)        Pecundang suka memilih mundur, karena tidak punya keberanian untuk maju.
Pecundang seringkali memilih menjadi kalah sebelum berperang.
Oleh sebab itu mereka tidak akan maju-maju. Orang yang maju adalah orang yang berani mengambil resiko!

(2)        Pendosa suka berpikir mundur untuk kembali menikmati hidup lamanya yang berdosa.
Ini seperti anjing kembali ke muntahnya atau babi kembali ke kubangan. Seorang pendosa yang tidak mau keluar dari pergaulan lamanya, tidak akan pernah bertobat secara permanen.
Ia harus mengubah focus :  untuk hidup masa depannya, dan bukan hidup masa lalunya.
Ada hasil penelitian yang menunjukkan pentingnya focus. Pada dasarnya manusia bisa berubah karena adanya 3 dorongan (motivasi) :

(a)        Motivasi Eksternal (dari luar)
Manusia bisa berubah karena dorongan dari luar (misalnya, takut dihukum).
Tapi perubahan itu hanya sebentar, penelitian menunjukkan perubahan itu sekitar 3 bulan.

(b)        Motivasi Internal
Perubahan terjadi karena adanya kesadaran dari dalam. Misalnya menyadari bahwa minum alcohol berlebihan tidak baik bagi kesehatan.
Penelitian menunjukkan perubahan jenis ini bisa bertahan sekitar 9 bulan.

© Motivasi internal dan terfokus
Artinya dorongan berubah berasal dari dalam dan disertai dengan focus benar-benar ingin berubah secara permanen. Misalnya : seorang peminum kemudian focus pada hidup barunya dan menghindari teman-temannya yang masih minum.
Penelitian menunjukkan perubahan jenis ke 3 bisa bertahan sampai sekitar 2 tahun bahkan bisa selamanya!

2.Lebih mendengar suara mayoritas
Orang Israel lebih mendengar suara mayoritas (yaitu 10 pengintai) dibandingkan suara kaleb dan Yosua. Padahal suara mayoritas itu belum tentu benar. Yang pasti benar adalah “suara Tuhan.”
Kaleb dan Yosua lebih mendengar suara Tuhan yang berjanji akan memberikan Kanaan kepada mereka, sementara orang Israel lebih mendengar suara mayoritas yang pesimis – band.Ul.1:21
Dalam banyak kasus di alkitab, mereka yang minoritas tapi mendengarkan suara Tuhan akan mencapai prestasi lebih dibanding mayoritas. Contoh :
(a)        Nuh dan keluarganya adalah minoritas dibanding orang sejamannya.
Tapi karena lebih mendengar suara Allah, Nuh dan keluarganya selamat, sedangkan orang sejamannya binasa.

(b)        Elia seorang diri adalah minoritas dibandingkan 450 nabi Baal.
Tapi karena beriman kepada Allah ia berhasil mengalahkan nabi-nabi Baal itu.

3.Suka membesar-besarkan masalah
Ciri negative lainya dari orang Israel adalah: suka membesar-besarkan masalah!
Israel selalu melihat masalah dan kesulitan di sepanjang perjalanan padang gurun, tapi mereka lupa pada pemeliharaan dan mujizat Allah disepanjang perjalanan itu.
(a)        Mereka selalu berteriak bahwa keadaan di Mesir lebih baik – Kel.14:12
Dalam persungutannya orang Israel selalu memojokkan Musa dengan kalimat bahwa di Mesir keadaan mereka lebih baik!
Tapi benarkah hal itu ? Sama sekali tidak! Yang namanya budak tidak ada yang bernasib baik.
Ingat kasus TKW Indonesia di luar negeri yang sering menjadi korban penyiksaan dan pelecehan seksual.
Jadi, kalau Israel berteriak keadaan di Mesir lebih baik, itu karena mereka suka membesar-besarkan masalah yang sedang mereka hadapi!

(b)        Mereka selalu meratap lebih baik mati – Bil.14:2
Kata-kata persungutan lainnya yang suka diucapkan Israel adalah :” lebih baik kami mati….”
Padahal kenyataannya mereka masih hidup dan bisa makan kenyang! Ini disebut kalimat hiperbola (melebih-lebihkan / membesar-besarkan)!

Karena suka membesar-besarkan masalah, akhirnya mereka mengalami nasib seperti yang mereka gembar-gemborkan,  mati di padang gurun!

4.Tidak menghargai diri sendiri – Bil.13:32-33
Israel, diwakili oleh ke 10 pengintai, adalah orang yang tidak bisa menghargai diri sendiri. Mereka menilai diri sendiri seperti belalang.Ini masalah besar! Selama seseorang tidak bisa menghargai dirinya sendiri maka ia tidak akan bisa maju dan berkembang!
Manusia dengan citra diri yang buruk tidak akan menjadi apa-apa!
Penelitian di penjara anak-anak di Tangerang menyimpulkan bahwa kebanyakan anak-anak yang terlibat kriminalitas dikarenakan mereka suka disumpah serapahin orang tuanya sejak masih orok. Karena terlalu sering mendengar sumpah serapah akibatnya mereka memiliki citra diri yang buruk. Dan selanjutnya mereka bersikap sebagaimana citra diri itu.
Apa perbedaan ke 2 kelompok pengintai ?
(a)        Sepuluh pengintai membandingkan diri mereka dengan masalah (para raksasa di tanah Kanaan)
(b)        Kaleb dan Yosua membandingkan masalah mereka dengan Tuhan!  - Bil.14:9

5.Suka bersungut-sungut dan memberontak
Ada kaitan erat antara suka bersungut-sungut dengan sikap memberontak. Pemberontakan Israel kepada Musa dan Yahwe selalu diawali dengan sungut-sungut terlebih dahulu! Urutannya adalah seperti ini :
(a)        Pertama, ada kekecewaan
Setiap ada masalah di padang gurun, Israel selalu merasa kecewa. Mereka berpikir bahwa kalau mengikuti Yahwe, maka seharusnya tidak ada lagi masalah!

(b)        Kekecewaan itu diungkapkan dalan persungutan
Karena hatinya kecewa, maka mulutnya lalu mengomel. Perhatikan, orang yang suka mengomel pasti memiliki banyak kepahitan/kekecewaan hidup.

(c)        Persungutan yang terus menerus akan melahirkan pemberontakan
Ketidakpuasan yang menumpuk akhirnya akan memuncak pada pemberontakan!

Sayangnya, pemberontakan Israel itu harus dibayar mahal, yaitu mereka semua binasa di padang gurun kecuali 2 orang : Yosua dan Kaleb.

6.Tidak bersedia membayar harga
Meskipun Allah sudah menjanjikan Tanah Kanaan kepada Israel, mereka tetap harus membayar harga. Bagaimana caranya :
(a)        Mereka tetap harus berani masuk ke Kanaan
Janji Allah bisa kita raih, kalau kita  berani melangkah. Disini Israel tidak bersedia membayar harga. Mereka memilih mundur daripada maju.

(b)        Mereka tetap harus berperang merebut tanah Kanaan
Janji Allah harus kita rebut. Kita harus berani “berperang” untuk merebut semua hak kita yang sudah dijanjikan Allah. Israel juga gagal disini. Mereka maunya terima beres, nggak mau membayar harganya!

7.Hidup dengan penglihatan, bukan dengan iman
Kesalahan terakhir Israel adalah mereka hidup dengan penglihatannya, bukan dengan imannya. Prinsip mereka adalah : “seeing is believing” = melihat dulu baru percaya. Ini sama dengan prinsip hidup Thomas. Sementara itu orang yang beriman seharusnya berprinsip :” believing is seeing” = percaya dulu baru melihat! Semua orang hebat, semua orang besar memiliki prinsip yang ke dua “believing is seeing”.
Yesus mengatakan :”Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.” – Yoh.20:29.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar