Ada
fakta yang mengejutkan tentang orang Israel yang keluar dari Mesir. Mari kita
lihat fakta itu:
(a) Ada sekitar 2 juta orang yang keluar
dari Mesir. Alkitab menyebut 600 ribu orang laki-laki. Para ahli memperkirakan
ditambah anak-anak dan para wanita jumlahnya 2 jutaan. (Kel.12:37 ; Bil.11:21).
(b) Mereka keluar dengan membawa ternak
serta harta benda lainnya – Kel.12:30-36
(c) Mereka ada di padang gurun selama 40
tahun, padahal seharusnya perjalanan dari Mesir ke Kanaan bisa ditempuh dalam
waktu normal kurang dari setahun.
(d) Dan ini yang paling mengejutkan, dari
sekitar 2 juta orang itu, yang sampai ke Kanaan cuma 2 orang, yaitu Yosua dan
Kaleb.
Nah,
Orang Israel yang mati di padang gurun ini disebut sebagai generasi yang hilang
(the lost Generation). Pertanyaannya, mengapa mereka bisa sampai terhilang ?
Kita
sebagai gereja masa kini harus belajar dari kasus ini agar tidak mengulangi
kesalahan yang sama.
CIRI-CIRI GENERASI YANG HILANG
1. Suka
menoleh kebelakang – Bil.14:2-3
Salah
satu hal yang paling senang diucapkan orang Israel dalam keluh kesahnya di
padang gurun adalah : mereka ingin
kembali ke Mesir (negeri perbudakan). Mentalitas suka menoleh kebelakang
ini adalah mentalitas pecundang dan pendosa :
(1) Pecundang suka memilih mundur, karena
tidak punya keberanian untuk maju.
Pecundang
seringkali memilih menjadi kalah sebelum berperang.
Oleh
sebab itu mereka tidak akan maju-maju. Orang yang maju adalah orang yang berani
mengambil resiko!
(2) Pendosa suka berpikir mundur untuk
kembali menikmati hidup lamanya yang berdosa.
Ini
seperti anjing kembali ke muntahnya atau babi kembali ke kubangan. Seorang
pendosa yang tidak mau keluar dari pergaulan lamanya, tidak akan pernah
bertobat secara permanen.
Ia
harus mengubah focus : untuk hidup masa
depannya, dan bukan hidup masa lalunya.
Ada
hasil penelitian yang menunjukkan pentingnya focus. Pada dasarnya manusia bisa
berubah karena adanya 3 dorongan (motivasi) :
(a) Motivasi Eksternal (dari luar)
Manusia
bisa berubah karena dorongan dari luar (misalnya, takut dihukum).
Tapi
perubahan itu hanya sebentar, penelitian menunjukkan perubahan itu sekitar 3
bulan.
(b) Motivasi Internal
Perubahan
terjadi karena adanya kesadaran dari dalam. Misalnya menyadari bahwa minum
alcohol berlebihan tidak baik bagi kesehatan.
Penelitian
menunjukkan perubahan jenis ini bisa bertahan sekitar 9 bulan.
©
Motivasi internal dan terfokus
Artinya
dorongan berubah berasal dari dalam dan disertai dengan focus benar-benar ingin
berubah secara permanen. Misalnya : seorang peminum kemudian focus pada hidup
barunya dan menghindari teman-temannya yang masih minum.
Penelitian
menunjukkan perubahan jenis ke 3 bisa bertahan sampai sekitar 2 tahun bahkan
bisa selamanya!
2.Lebih mendengar suara mayoritas
Orang
Israel lebih mendengar suara mayoritas (yaitu 10 pengintai) dibandingkan suara
kaleb dan Yosua. Padahal suara mayoritas itu belum tentu benar. Yang pasti
benar adalah “suara Tuhan.”
Kaleb
dan Yosua lebih mendengar suara Tuhan yang berjanji akan memberikan Kanaan
kepada mereka, sementara orang Israel lebih mendengar suara mayoritas yang
pesimis – band.Ul.1:21
Dalam
banyak kasus di alkitab, mereka yang minoritas tapi mendengarkan suara Tuhan
akan mencapai prestasi lebih dibanding mayoritas. Contoh :
(a) Nuh dan keluarganya adalah minoritas dibanding
orang sejamannya.
Tapi
karena lebih mendengar suara Allah, Nuh dan keluarganya selamat, sedangkan
orang sejamannya binasa.
(b) Elia seorang diri adalah minoritas
dibandingkan 450 nabi Baal.
Tapi
karena beriman kepada Allah ia berhasil mengalahkan nabi-nabi Baal itu.
3.Suka membesar-besarkan masalah
Ciri
negative lainya dari orang Israel adalah: suka membesar-besarkan masalah!
Israel
selalu melihat masalah dan kesulitan di sepanjang perjalanan padang gurun, tapi
mereka lupa pada pemeliharaan dan mujizat Allah disepanjang perjalanan itu.
(a) Mereka selalu berteriak bahwa keadaan di
Mesir lebih baik – Kel.14:12
Dalam
persungutannya orang Israel selalu memojokkan Musa dengan kalimat bahwa di
Mesir keadaan mereka lebih baik!
Tapi
benarkah hal itu ? Sama sekali tidak! Yang namanya budak tidak ada yang
bernasib baik.
Ingat
kasus TKW Indonesia di luar negeri yang sering menjadi korban penyiksaan dan
pelecehan seksual.
Jadi,
kalau Israel berteriak keadaan di Mesir lebih baik, itu karena mereka suka
membesar-besarkan masalah yang sedang mereka hadapi!
(b) Mereka selalu meratap lebih baik mati –
Bil.14:2
Kata-kata
persungutan lainnya yang suka diucapkan Israel adalah :” lebih baik kami
mati….”
Padahal
kenyataannya mereka masih hidup dan bisa makan kenyang! Ini disebut kalimat
hiperbola (melebih-lebihkan / membesar-besarkan)!
Karena
suka membesar-besarkan masalah, akhirnya mereka mengalami nasib seperti yang
mereka gembar-gemborkan, mati di padang
gurun!
4.Tidak menghargai diri sendiri –
Bil.13:32-33
Israel,
diwakili oleh ke 10 pengintai, adalah orang yang tidak bisa menghargai diri
sendiri. Mereka menilai diri sendiri seperti belalang.Ini masalah besar! Selama
seseorang tidak bisa menghargai dirinya sendiri maka ia tidak akan bisa maju
dan berkembang!
Manusia
dengan citra diri yang buruk tidak akan menjadi apa-apa!
Penelitian
di penjara anak-anak di Tangerang menyimpulkan bahwa kebanyakan anak-anak yang
terlibat kriminalitas dikarenakan mereka suka disumpah serapahin orang tuanya
sejak masih orok. Karena terlalu sering mendengar sumpah serapah akibatnya
mereka memiliki citra diri yang buruk. Dan selanjutnya mereka bersikap
sebagaimana citra diri itu.
Apa
perbedaan ke 2 kelompok pengintai ?
(a) Sepuluh pengintai membandingkan diri
mereka dengan masalah (para raksasa di tanah Kanaan)
(b) Kaleb dan Yosua membandingkan masalah
mereka dengan Tuhan! - Bil.14:9
5.Suka bersungut-sungut dan memberontak
Ada
kaitan erat antara suka bersungut-sungut dengan sikap memberontak. Pemberontakan
Israel kepada Musa dan Yahwe selalu diawali dengan sungut-sungut terlebih
dahulu! Urutannya adalah seperti ini :
(a) Pertama, ada kekecewaan
Setiap
ada masalah di padang gurun, Israel selalu merasa kecewa. Mereka berpikir bahwa
kalau mengikuti Yahwe, maka seharusnya tidak ada lagi masalah!
(b) Kekecewaan itu diungkapkan dalan
persungutan
Karena
hatinya kecewa, maka mulutnya lalu mengomel. Perhatikan, orang yang suka mengomel
pasti memiliki banyak kepahitan/kekecewaan hidup.
(c) Persungutan yang terus menerus akan
melahirkan pemberontakan
Ketidakpuasan
yang menumpuk akhirnya akan memuncak pada pemberontakan!
Sayangnya,
pemberontakan Israel itu harus dibayar mahal, yaitu mereka semua binasa di
padang gurun kecuali 2 orang : Yosua dan Kaleb.
6.Tidak bersedia membayar harga
Meskipun
Allah sudah menjanjikan Tanah Kanaan kepada Israel, mereka tetap harus membayar
harga. Bagaimana caranya :
(a) Mereka tetap harus berani masuk ke
Kanaan
Janji
Allah bisa kita raih, kalau kita berani
melangkah. Disini Israel tidak bersedia membayar harga. Mereka memilih mundur
daripada maju.
(b) Mereka tetap harus berperang merebut
tanah Kanaan
Janji
Allah harus kita rebut. Kita harus berani “berperang” untuk merebut semua hak
kita yang sudah dijanjikan Allah. Israel juga gagal disini. Mereka maunya
terima beres, nggak mau membayar harganya!
7.Hidup dengan penglihatan, bukan dengan
iman
Kesalahan
terakhir Israel adalah mereka hidup dengan penglihatannya, bukan dengan
imannya. Prinsip mereka adalah : “seeing is believing” = melihat dulu baru
percaya. Ini sama dengan prinsip hidup Thomas. Sementara itu orang yang beriman
seharusnya berprinsip :” believing is seeing” = percaya dulu baru melihat! Semua
orang hebat, semua orang besar memiliki prinsip yang ke dua “believing is seeing”.
Yesus
mengatakan :”Berbahagialah mereka yang tidak melihat namun percaya.” –
Yoh.20:29.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar